Pernyataan
sekaligus pertanyaan ini sangat menggelitik karena Pemerintah melalui Badan
Penelitian dan Pengembangan Pertanian akan meluncurkan Pekan Padi Nasional
(PPN) III yang akan dibuka Presiden tanggal 24 Juli 2008.
Melalui PPN III ditampilkan kemajuan
terkini (state of the art) teknologi padi dan budidayanya mendukung
peningkatan produksi padi nasional.
Keberhasilan ini terefleksi dari
keberhasilan program peningkatan produksi beras nasional (P2BN) yang mampu
mendongkrak peningkatan produksi padi 4,98 persen (tahun 2007) dan 4,76 persen
(angka ramalan/ARAM II 2008).
Padahal, kita mencatat luas alih fungsi lahan yang mencapai 80 ribu hektare per tahun baru diimbangi pencetakan sawah 25 ribu hektare pada tahun 2007.
Padahal, kita mencatat luas alih fungsi lahan yang mencapai 80 ribu hektare per tahun baru diimbangi pencetakan sawah 25 ribu hektare pada tahun 2007.
Data statistik ini diperkuat dengan masih
stabilnya harga beras dalam negeri pada aral (level) yang jauh lebih murah
dibandingkan harga beras di pasar internasional. Pertanyaannya, dengan
keberhasilan fantastis yang dicapai tahun 2007 dan 2008, mampukah Indonesia
menjadi eksportir beras dunia? Kalau ya, bagaimana dan kalau tidak mengapa?
Varietas Unggul Baru
Keberhasilan revolusi hijau pertama
melalui titik berat perbaikan sumber daya genetik dan peningkatan agro input
utamanya pupuk dan pestisida merupakan teknologi penyelamat manusia dari
bahaya kelaparan. Indonesia mampu meningkatkan produksi beras dari 8,0 juta ton
pada tahun 1963 menjadi 32 juta ton pada 2004 (produksi meningkat 400 persen
dalam kurun waktu 40 tahun).
Format ini akan dikembangkan revolusi
hijau generasi kedua untuk meningkatkan produksi padi secara signifikan.
Beberapa teknologi unggulanyang telah dihasilkan antara lain varietas unggul
hibrida potensi hasil tinggi (Gilirang, Ciapus, Cimelati) dan hibrida (Maro,
Rokan, HIPA-3, HIPA-4, HIPA-5, HIPA-6), ketahanan penyakit wereng batang coklat
(Membrano, Widas, Ciherang), perbaikan cekaman abiotik (Jatiluhur, Batutegi),
Mutu pulen (Ciherang, Cigeulis, Cibogo), umur genjah (Silunggonggo, Batang Gadis,
Situ Patenggang), mutu gizi (vitamin B) beras merah Aek Sibundong. Juga
dihasilkan varietas unggul rendah emisi gas metan, seperti Ciherang, Way Apo
Buru, Cisantana, dan Tukad Balian dengan teknik pengelolaan lahan dan air,
pemupukan yang mampu menekan emisi gas metan sehingga dapat berkontribusi lebih
besar dalam mitigasi perubahan iklim.
Varietas unggul yang adaptif terhadap
perubahan iklim seperti kekeringan, banjir, salintas, serta toleran
hama/penyakit telah dikembangkan. Ditemukannya varietas unggul baru inhibrida
dan hibrida umur pendek yang adaptif terhadap perubahan iklim, maka sepanjang
tahun lahan sawah dan lahan kering dapat ditanami paling tidak dua kali
setahun.
Musim hujan ditanami padi sawah,
sementara musim kemarau ditanami padi gogo atau lahan kering. Kombinasi
produktivitas dan peningkatan luas panen, akan memberikan lompatan produksi
padi nasional yang sangat signifikan.
Kesempatan ini harus disebut bangsa
Indonesia momentum krisis pasokan dan harga atas pangan dan energi dunia merupakan
kesempatan untuk memulai ekspor beras dan mendapatkan devisa dalam jumlah yang
sangat signifikan.
Peran Pemda
Diperlukan tiga strategi untuk mencapai
ekspor beras yang diperhitungkan, yaitu 1) akselerasi perbanyakan benih sumber
yang signifikan, 2) harga gabah yang menarik, dan 3) peranan Pemerintah
provinsi, kabupaten/kota dalam mendorong peningkatan produksi padi melalui
kerja sama Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian dan 1 Badan Usaha Milik
Negara dan Balai Benih Induk Padi dan penangkar (masyarakat), Pemerintah telah
menghitung kebutuhan benih nasional.
Didukung Balai Pengkajian Teknologi
Pertanian (BPTP), maka akselerasi produksi benih nasional dilakukan. Menurut
penelitian, pergantian benih lokal ke benih unggul bersertifikat maka peningkatan
produksi padi dapat mencapai kisaran 500-900 kilogram perhektar. Melalui
peningkatan luas tanam dengan introduksi varietas padi gogo, maka peningkatan
produksi padi nasional dapat ditingkatkan mencapai 30 persen selama 2-3 tahun.
Harga gabah yang menarik perlu terus
dipertahankan, bahkan ditingkatkan karena saat ini nilai tukar petani masih
107. Apabila dapat ditingkatkan sampai 112-115, maka daya beli dan
kesejahteraan petani dapat ditingkatkan.
Diperlukan keberpihakan Pemerintah dari
semua pihak agar petani dapat diberdayakan dan bukan diperdaya oleh pasar dan
para mafia ekonomi. Penguatan ekonomi petani merupakan pilihan yang mulai
diambil Pemerintah dengan melakukan stabilisasi harga gabah di dalam negeri.
Saat ini petani masih sering dihadapkan
pada anjloknya harga gabah saat panen raya sehingga peran Pemerintah untuk
menolong mereka secara konsisten perlu terus dipertahankan. Peran provinsi
dalam koordinasi dengan kabupaten/kota sangat besar kontribusinya terhadap
kinerja peningkatan produksi padi nasional.
Peningkatan efisiensi dan efektivitas
dana tugas pembantuan, dana alokasi khusus, dan dana dekonsentrasi serta
anggaran pendapatan dan belanja negara provinsi, kabupaten/kota maka akan
terakumulasi kekuatan yang luar biasa dalam produksi padi nasional.
Ketaatan pada gubernur, bupati dan wali
kota dalam menyukseskan Indonesia sebagai eksportir beras mutlak diperlukan
karena tanpa dukungan itu, maka target itu akan menjadi isapan jempol belaka.
Perubahan fundamental posisi Indonesia
sebagai importir beras besar dunia menjadi eksportir beras dunia, maka akan
menaikkan harga diri bangsa dan negara.
lnilah indikator penciri yang terukur
bagi semua pihak untuk menilai kinerja aparat dan Pemerintah yang mendapat
amanah rakyat. Pendekatan ini memungkinkan prinsip reward and punishment dapat
diimplementasikan secara langsung di lapngan.
Posisi pasokan pangan yang aman
memungkinkan Pemerintah dapat membangun dengan tenang tanpa merasa khawatir
mengalami guncangan pasokan dan harga pangan. Tekad ini sudah dicanangkan Pemerintah,
roda clan mesin sudah berjalan. Yang diperlukan adalah akselerasi program
dengan peningkatan efisiensi clan efektivitas penggunaan anggaran di lapangan.
Padi merupakan kehidupan sehingga kalau
bangsa Indonesia ingin tetap hidup dan berjaya di percaturan dunia, maka
pemenuhan kebutuhan pangan utamanya beras harus diprioritaskan. Pimpinan
nasional yang peduli petani dipastikan akan terpilih pada pemilu 2009 sehingga
pilihannya ada pada calon Presiden.
(di muat di Harian Umum Republika – 24 Juli 2008)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar