Modernisasi Pertanian Indonesia Penulis : Dr. Ir. H. Gatot Irianto, MS., DAA. Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian Edisi, Juli 2014 ISBN : 976-602-71083-0-1 |
Rabu, 20 Agustus 2014
MODERNISASI PERTANIAN INDONESIA
kata kunci:
inovasi,
mekanisasi pertanian,
modernisasi pertanian,
pertanian,
sumber daya manusia,
usaha tani
Selasa, 12 Agustus 2014
Kedaulatan Lahan dan Pangan - Mimpi atau Nyata
Kedaulatan Lahan & Pangan Mimpi atau Nyata Penulis : Dr. Ir. Gatot Irianto, MS., DAA. Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian Edisi Pertama, Desember Tahun 2013 ISBN : 978-979-246-127-5 |
kata kunci:
alih fungsi,
impor,
kepemilikan lahan,
konversi lahan,
lahan,
pangan
Senin, 11 Agustus 2014
PERTANYAAN SEORANG ANAK PETANI
Beberapa pertanyaan ini saya goreskan ketika hati ini
sedih dan geram karena gelombang globalisasi perdagangan pangan semakin
menggerogoti dan menghancurkan eksistensi petani di segala lini. Pertanyaan
selanjutnya muncul dari naluri anak seorang petani yang melihat peluang usaha
pemberdayaan petani yang dibiarkan berlalu, sehingga nasib petani belum
beranjak baik dengan posisi tawar yang kuat seperti yang terjadi di Negara-negara
maju.
Deraan liberalisasi pangan telah menimbulkan ambivalensi
antara kesetaraan memperoleh akses pangan dengan harga yang sehat dan dumping
yang mempunyai daya bunuh dan tumpas terhadap kompetitor yang luar biasa.
Gotong royong
sebagai nilai luhur falsafah bangsa yang lembut terpaksa harus bertempur
melawan individualisme yang menjadi inti neoliberalisme. Sebagai pertarungan
ekonomi dan budaya, maka dipastikan pangan global akan mengeliminasi pangan
lokal kita. Hancurnya sistem produksi kedelai nasional, anjloknya harga wortel,
bawang merah, bawang putih merupakan teladan konkretnya. Ironisnya, masih ada
saja yang mengatakan, daripada membeli produk dalam negeri mahal, lebih baik
impor dengan harga yang murah.
Tengoklah di
supermarket, sebagian besar didominasi buah impor murah sarat dumping.
Tragisnya, pembelinya pegawai negeri bahkan pejabat Pemerintah yang nota
benenya digaji dari pajak yang dikutip dari petani sebagai salah komponen
masyarakat. Sadarkah kita bahwa pola konsumsi produk impor minded pimpinan
nasional (formal maupun nonformal) akan menjadi trend setter masyarakat?.
UJIAN AKHIR SBY-JK
Perlu diingat, pangan adalah urusan perut
yang tidak bisa ditawar sebagaimana urusan politik. Ketersediaan yang cukup dan
akses yang memadai adalah dua kata kuncinya. Pengalaman menunjukkan, masyarakat
miskin rela mempertaruhkan nyawa sekadar untuk memenuhi isi perut, dan bukan
untuk memperkaya diri. Fenomena ini perlu diwaspadai jika Pemerintahan SBY-JK
jika ingin lulus ujian akhir sebelum menyelesaikan masa jabatannya.
Daya tahan Pemerintahan SBY-JK terus
menghadapi ujian berat, mulai bencana tsunami, separatisme Aceh, ancaman
terorisme, bencana alam yang beruntun, gejolak moneter, melambungnya harga
minyak, hingga persoalan BLBI. Agaknya, segala cobaan ini belum akan berakhir.
Masih ada masalah fundamental yang perlu diselesaikan secara mendasar dan
simultan di akhir Pemerintahannya, yaitu persoalan kedaulatan pangan (produksi,
ketersediaan, dan akses pangan) serta lapangan kerja bagi masyarakat miskin dan
mendekati miskin (near poor).
kata kunci:
beras,
harga,
pangan,
pemerintah
MEWASPADAI KETIDAKADILAN HARGA BERAS
Predikat
sebagai komoditas strategis dan politik yang disandang beras tampaknya justru
menjadikan komoditas ini sarat intervensi yang lebih banyak madarot-nya
dibandingkan manfaatnya. Begitu banyaknya intervensi ekonomi dan politik Pemerintah
melalui Departemen Perdagangan dan Bulog ditambah lagi intervensi swasta
melalui tengkulak menyebabkan petani selalu mengalami ketidakadilan harga saat
panen raya. Petani yang sebagian besar miskin ”terpaksa dan dipaksa” menerima
”harga senyatanya dan bukan harga yang seharusnya” (harga pokok pembelian Pemerintah/HPP).
Ironisnya lagi, mengapa hanya beras saja yang diperlakukan tak adil, sementara
harga kedelai dan minyak goreng lebih mudah disesuaikan?
Mengapa disparitas harga beras dalam dan
luar negeri yang mencapai Rp 1.800 tidak bisa dinikmati petani?
Minggu, 10 Agustus 2014
EKSPLOSI PENDUDUK DAN ANCAMAN KELAPARAN
Ketersediaan lahan untuk usaha pertanian merupakan syarat absolut untuk membangun kedaulatan pangan. Tanpa adanya perubahan politik atas akses dan penguasaan lahan, maka kedaulatan pangan hanya menjadi retorika dan cita cita tanpa realita sampai kapanpun juga. Indonesia hanya memiliki luas lahan sawah 8,1 juta hektar (BPS, 2012). Sekalipun subur, dengan laju konversi dari sawah menjadi bangunan, dan dari sawah menjadi perkebunan, menjadikan pasokan pangan berada dalam ancaman di depan mata. Ironisnya, para pihak sebagai pengambil kebijakan cenderung mengabaikan situasi kritikal tersebut. Cepat dan pasti apabila dibiarkan dan tanpa ada langkah radikal, maka Indonesia yang sedang mengalami ekplosi penduduk dipastikan menghadapi ancaman kelaparan.
HAK DASAR ATAS IKLIM
Tuntutan
demokratisasi lingkungan (environmental
democratization) dipastikan kian menguat. Konflik yang terjadi akibat
tekanan negara maju atas negara pemilik hutan dan desakan negara berkembang
terhadap negara industri penyebab utama pemanasan global harus secepatnya
diselesaikan.
Diperlukan sikap menerima dan memberi
dari kedua pihak agar tidak menimbulkan perselisihan terbuka yang justru
merugikan nasib penghuni planet Bumi itu sendiri. Pertanyaannya, prasyarat apa
yang diperlukan agar negosiasi dua kutub berseberangan mencapai titik temu?
kata kunci:
emisi gas,
iklim,
lingkungan,
pemanasan global
BANJIR EKSEPSIONAL
Istar
Husain, seorang warga Banglades, menggambarkan bencana banjir yang mendera
negerinya tahun 2007 dengan teramat getir: "Begitu banyak hujan saat ini
yang menghanyutkan tepian sungai dengan cepat. Tidak ada tempat yang dapat
dituju karena lahan kami menjadi sungai dan kini kami tak punya apa-apa
lagi."
Ilustrasi di atas relevan karena sama
persis dengan yang dialami ratusan ribu atau bahkan jutaan warga Indonesia saat
ini. Banjir yang menerjang sebagian besar kabupaten di Indonesia saat ini
sungguh luar biasa.
Manusia terseret arus, tertimbun lumpur,
dan terkubur hidup- hidup. Korban tewas terus berjatuhan, nyawa seakan tidak
berharga, sawah dan permukiman mereka berantakan diterjang banjir. Bendung
jebol, jembatan ambruk, jalan tertutup air dengan aliran yang sangat deras
sehingga transportasi dan urat nadi perekonomian terputus.
Biaya tambahan akibat banjir ini harus
ditanggung dan dibayar warga miskin, termasuk akibat kacaunya pasokan dan harga
bahan pangan.
kata kunci:
banjir,
pemerintah
MALAPETAKA BANJIR
Belum pulih sawah dan permukiman yang rusak diterjang
banjir Bengawan Solo pada awal 2008 masyarakat sudah dikejutkan oleh banjir
bandang yang melanda Pasuruan dan Bondowoso. Banjir kali ini menerjang
permukiman, persawahan, serta memutus arus transportasi dan urat nadi
ekonomi. Bahkan menelan korban jiwa.
Jakarta juga tidak luput dari amukan Sungai Ciliwung,
Cisadane, dan kali Pesanggrahan, sehingga transportasi dari dan ke Bandara
Soekarno-Hatta lumpuh total dua hari. Pertanyaannya, mengapa malapetaka banjir
terjadi di mana-mana dan terus meningkat baik intensitas, frekuensi, durasi,
lokasi dan korbannya.
Penyelesaian menyeluruh masalah banjir mutlak
diperlukan, tetapi sebelum itu diformulasikan, terlebih dulu semua pihak perlu
menyepakati faktor penyebab banjir. Selama ini banyak pihak selalu condong dan
berlindung bahwa hujan merupakan faktor determinan penyebab banjir, bukan manusia.
kata kunci:
banjir,
bencana,
bengawan solo,
DAS,
tata ruang
BANJIR, MALAPETAKAN TERENCANA
Awal tahun ini, ada dua perubahan fundamental
karakteristik banjir. Dua-duanya mencemaskan: peningkatan frekuensi dan
peningkatan durasi banjir dua kali dalam satu musim hujan. Hal ini bisa dilihat
saat banjir besar melanda Pati, Blora, Grobogan, dan Juwana, Jawa Tengah. Pada
awal Januari, durasinya 7 hari, sedangkan di awal Februari menjadi 14 hari
lebih. Di Pati dan Juwana, banjir bahkan belum surut meski sudah berlangsung
lebih dari dua minggu.
Sinyal buruk ini mengindikasikan,
bilamana degradasi daerah aliran sungai (DAS) mencapai titik nadirnya, banjir
dapat terjadi sepanjang musim hujan. Petani dan masyarakat miskin korban banjir
akan langsung merasakan akibatnya. Posisi mereka pasti bertambah sulit.
kata kunci:
banjir,
petani,
rakyat miskin,
tutupan lahan
Langganan:
Postingan (Atom)

