Kedaulatan Lahan & Pangan Mimpi atau Nyata Penulis : Dr. Ir. Gatot Irianto, MS., DAA. Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian Edisi Pertama, Desember Tahun 2013 ISBN : 978-979-246-127-5 |
Tampilkan postingan dengan label impor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label impor. Tampilkan semua postingan
Selasa, 12 Agustus 2014
Kedaulatan Lahan dan Pangan - Mimpi atau Nyata
kata kunci:
alih fungsi,
impor,
kepemilikan lahan,
konversi lahan,
lahan,
pangan
Senin, 11 Agustus 2014
PERTANYAAN SEORANG ANAK PETANI
Beberapa pertanyaan ini saya goreskan ketika hati ini
sedih dan geram karena gelombang globalisasi perdagangan pangan semakin
menggerogoti dan menghancurkan eksistensi petani di segala lini. Pertanyaan
selanjutnya muncul dari naluri anak seorang petani yang melihat peluang usaha
pemberdayaan petani yang dibiarkan berlalu, sehingga nasib petani belum
beranjak baik dengan posisi tawar yang kuat seperti yang terjadi di Negara-negara
maju.
Deraan liberalisasi pangan telah menimbulkan ambivalensi
antara kesetaraan memperoleh akses pangan dengan harga yang sehat dan dumping
yang mempunyai daya bunuh dan tumpas terhadap kompetitor yang luar biasa.
Gotong royong
sebagai nilai luhur falsafah bangsa yang lembut terpaksa harus bertempur
melawan individualisme yang menjadi inti neoliberalisme. Sebagai pertarungan
ekonomi dan budaya, maka dipastikan pangan global akan mengeliminasi pangan
lokal kita. Hancurnya sistem produksi kedelai nasional, anjloknya harga wortel,
bawang merah, bawang putih merupakan teladan konkretnya. Ironisnya, masih ada
saja yang mengatakan, daripada membeli produk dalam negeri mahal, lebih baik
impor dengan harga yang murah.
Tengoklah di
supermarket, sebagian besar didominasi buah impor murah sarat dumping.
Tragisnya, pembelinya pegawai negeri bahkan pejabat Pemerintah yang nota
benenya digaji dari pajak yang dikutip dari petani sebagai salah komponen
masyarakat. Sadarkah kita bahwa pola konsumsi produk impor minded pimpinan
nasional (formal maupun nonformal) akan menjadi trend setter masyarakat?.
Minggu, 10 Agustus 2014
EKSPLOSI PENDUDUK DAN ANCAMAN KELAPARAN
Ketersediaan lahan untuk usaha pertanian merupakan syarat absolut untuk membangun kedaulatan pangan. Tanpa adanya perubahan politik atas akses dan penguasaan lahan, maka kedaulatan pangan hanya menjadi retorika dan cita cita tanpa realita sampai kapanpun juga. Indonesia hanya memiliki luas lahan sawah 8,1 juta hektar (BPS, 2012). Sekalipun subur, dengan laju konversi dari sawah menjadi bangunan, dan dari sawah menjadi perkebunan, menjadikan pasokan pangan berada dalam ancaman di depan mata. Ironisnya, para pihak sebagai pengambil kebijakan cenderung mengabaikan situasi kritikal tersebut. Cepat dan pasti apabila dibiarkan dan tanpa ada langkah radikal, maka Indonesia yang sedang mengalami ekplosi penduduk dipastikan menghadapi ancaman kelaparan.
Jumat, 08 Agustus 2014
MENGAMATI KETAHANAN PANGAN KITA
Mengapa
El Nino begitu mencemaskan sehingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono perlu
khusus menggelar rapat koordinasi terbatas?
Ada
dua argumen yang mendasari. Pertama, sistem produksi pangan amat sensitif
terhadap El Nino dan pasokan air hujan. Kedua, komitmen kuat Pemerintah
mempertahankan swasembada pangan menuju ekspor pangan berkelanjutan.
Trauma
dampak negatif anomali iklim El Nino memaksa Indonesia mengimpor beras dalam
jumlah amat signifikan.
kata kunci:
beras,
impor,
ketahanan pangan,
pangan
PENYUMBATAN BIROKRASI
Pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu
II, Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Pemerintah provinsi, kabupaten, dan
kota mengadakan pertemuan puncak pada 29-30 Oktober 2009.
Targetnya, pertumbuhan 2010 di atas 6,3
persen dan akhir 2014 perekonomian Indonesia tumbuh lebih dari 7,0 persen.
Tahun 2020 terjadi swasembada semua kebutuhan pangan domestik dan ekspor secara
simultan sebagai implementasi visi Pemerintah memberi makan dunia.
kata kunci:
birokrasi,
impor,
pemerintah,
pertanian
MEWASPADAI SPEKULASI PANGAN
Kontroversi
atas harga beras yang konsisten tinggi dan peningkatan produksi beras 2,45
persen (ARAM III BPS 2010) menyisakan tanda tanya besar.
Benarkah harga beras dibentuk oleh
mekanisme pasar atau didikte kelompok tertentu? Ke mana surplus beras 5 juta
ton saat panen raya Maret-Mei 2010? Siapa yang menyimpan?
Kewaspadaan terhadap kenaikan harga
pangan merupakan keharusan. Ini karena, menurut BPS, kenaikan 10 persen harga
beras akan menambah jumlah penduduk miskin 2,5 juta jiwa.
NASIB PETANI KEDELAI
Tirani mayoritas importir kedelai
berhasil memaksa Pemerintah untuk kesekian kali membebaskan bea masuk kedelai
impor. Membanjirnya kedelai impor menjadikan nasib petani kedelai kian terpuruk
dan tidak berdaya.
Importir kedelai dengan tameng perajin
tahu tempe tanpa peduli menindas dan menggilas lebih dari 3 juta petani kedelai
Indonesia, sekaligus menjerumuskan Indonesia masuk perangkap impor kedelai.
Fenomena melambungnya harga kedelai yang terus berulang mengindikasikan bahwa
pembebasan bea masuk belum menyelesaikan masalah fundamentalnya.
Ironisnya, ketika harga kedelai di
tingkat petani anjlok, semua pihak melakukan pembiaran. Tidak ada satu pun yang
memperjuangkan nasib petani kedelai.
Langganan:
Postingan (Atom)
